Info Sekolah
Rabu, 22 Sep 2021
  • SMP Negeri 2 Wungu Kabupaten Madiun

MERUBAH KEBIASAAN BURUK SISWA DI SEKOLAH

Diterbitkan :

MERUBAH KEBIASAAN BURUK SISWA DI SEKOLAH

( Karya : Dra. Susana Jarwati )

            Pendidikan seutuhnya tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan kesegaran jasmani, namun juga harus membentuk karakter.  Sebagai peserta didik masuk di sekolah dengan latar belakang yang bermacam-macam  karakter. Latar belakang keluarga dan sekolah dasar sebelumnya mewarnai perilaku di sekolah berikutnya, ditambah dengan pengaruh lingkungan social.  Kelemahan pendidikan klasikal  salah satunya adalah tidak dapat memberikan pelayanan pendidikan sesuai dengan perbedaan individual masing-masing peserta didik. Pada akhirnya beberapa kesulitan dalam mengembangkan pendidikan karakter.

Ada hal yang terlupakan dalam pendidikan karakter yaitu kebiasaan (habit), sesuatu yang menjadi dunia kedua bagi manusia. Kehidupan akan ditentukan kebiasaan hari demi hari, jam per jam. Kebiasaan yang positif akan mampu memberikan produktifitas pada semua aspek kehidupan . Sebaliknya kebiasaan yang destruktif akan mengurangi produktifitas dan masa depan yang bermasalah. Dari kebiasaan akan muncul perilaku peserta didik, di rumah, sekolah dan masyarakat. Orang lain akan menilai perilaku yang positif dan destruktif dengan ukuran masing-masing. Masa depan akan ditentukan oleh aneka kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada beberapa kebiasaan buruk di sekolah yang mempengaruhi hasil peserta didik dan mempengaruhi karakter. Karena sekolah sudah mempunyai aturan tersendiri yang menyangkut proses belajar dan berlatih, dengan harapan karakter disiplin dimiliki oleh peserta didik. Namun dengan perkembangan lingkungan merubah pola pikir peserta didik mengikuti kebebasan, sementara belum dipahami arti kebebasan yang sebenarnya. Protes akan ketidakbenaran, menuntut hak, bersandar pada hukum selalu diutamakan, sementara kewajiban yang harus dilaksanakan hanya sekedar melaksanakan tanpa dijiwai dengan keiklasan untuk melakukan. Kadang orang tuapun ikut campur mengatur aturan yang di sekolah, kalau sudah demikian peserta didik yang menjadi korban.

Oleh karena diperlukan konsep perubahan kebiasaan peserta didik yang buruk menjadi baik. Beberapa komponen yang diperlukan untuk merubah kebiasaan adalah:

  1. Reminder  atau trigger yang tegas agar tidak terjadi salah tafsir antara guru, orang tua dan peserta didik. Unsurnya meliputi waktu, lokasi, kejadian sebelumnya dan lingkungan. Misalnya:  Pukul 06.30 Peserta didik harus sudah sampai disekolah dan siap untuk belajar dengan membawa perlengkapan belajar sesuai jadwal pelajaran . Pukul 12.30 Peserta didik  merapikan ruangan kelas, mengembalikan peralatan yang dipinjam dari sekolah dan pulang sekolah dengan tertib.
  2. Rutin dilakukan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan yang rutin bisa menjadi kebiasaan bila dilakukan dalam jangka waktu minimal 18 hari dan maksimal 254 hari. Agar tidak terdapat kejenuhan, maka diperlukan beberapa variasi mengenai kedatangan atau kepulangan peserta didik. Misalnya tiap minggu pintu masuk dan pulang berbeda-beda. Saat masuk dan pulang dihantar dengan music.

C,         Reward yang berupa imbalan yang tidak harus berupa hadiah. Peserta didik yang rajin tidak terlambat dan pulang tepat waktu  dalam diberi pita emas  yang paling jelek diberi pita merah. Hal ini juga akan diketahui oleh banyak orang mengenai penghargaan yang diperoleh. Diakhir tahun diberi piagam penghargaan sekolah sebagai bentuk reward untuk peserta didik. Bagi peserta didik reward yang paling penting adalah perlindungan dan kenyamanan dalam belajar, sehingga peserta didik merasa senang di lingkungan sekolah.

Dalam penerapan diperlukan beberapa tahapan yang memerlukan upaya lebih dari para guru yang menginginkan budaya belajar yang baik. Hal yang paling awal adalah persetujuan para guru dan staf sekolah dalam pembentukan kebiasaan. Setelah itu perlu dibuat pemberitahuan kepada orang tua tentang budaya yang akan dibentuk. Tahap berikutnya adalah tetapkan satu kebiasaan yang akan dilakukan, hal yang sederhana. Satu saja kebiasaan yang mudah dilakukan. memantapkan tekad bersama untuk merubah kebiasaan buruk peserta didik. Kemudian buat target secara spesifik dan terukur agar mudah dievaluasi secara berkala. Tahap terakhir adalah melaksanakan di sekolah.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai agar perubahan tidak gagal. Penyebab kegagalan yang pertama adalah rumusan kebiasaan kurang spesifik dan bias. Antar guru, orang tua ada ketidak pahaman mengenai kebiasaan yang dilakukan. Kedua gagal memperoleh reward secara instan maupun panjang yang mengasikkan. Mereka merasa tertekan atau terpaksa harus melakukan, sehingga muncul pura-pura. Ketiga lingkungan tidak didesain ulang untuk mendukung terlaksana kebiasaan yang diprogramkan. Keempat terkena jebakan brain fatique yaitu kelelahan pikiran dan fisik untuk melaksanakan kebiasaan karena jadwal yang selalu berubah-ubah atau kegiatan yang mendadak.

Demikian uraian untuk merubah kebiasaan buruk di Sekolah. Selamat mencoba dan sukseskan pembentukan karakter peserta didik yang displin.

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Dra.Susana Jarwati
Senin, 13 Jul 2020

Terimakasih banyak untuk Inspirator penulis naskah ini,..Semoga banyak bermanfaat

Balas

Beri Komentar