Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Sementara itu secara pragmatis pendidikan tidak hanya diartikan sebagai proses mentransformasikan pengetahuan, keterampilan dan seperangkat nilai-nilai, melainkan juga harus mampu mengembangkan kemampuan siswa untuk beradaptasi dengan berbagai perubahan jaman.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sedangkan fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut perlu adanya sinergisitas dari seluruh mata pelajaran yang masing-masing memiliki kontribusi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran tersebut, tidak terkecuali dengan pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK).
Sebagaimana diketahui PJOK dapat diartikan sebagai bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani.
Kebugaran jasmani merupakan salah satu lingkup materi pembelajaran jasmani yang sekaligus sebagai ranah tujuan pembelajaran yang khas yang tidak dilakukan dan harus dipenuhi oleh mata pelajaran lain. Kebugaran jasmani merupakan unsur penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari siswa. Derajat kebugaran jasmani perlu diukur secara akurat untuk itu perlu disediakan instrument tes dan pengukurannya.
Instrumen tes dan pengukuran terstandar telah tersedia dengan berbagai ragam dan prosedur sesuai karakteristik “testee” atau orang yang dites/diukur. Ada banyak pilihan tes kebugaran jasmani yang ada di dunia seperti tes AAHPER Youth Fitness, Texas Youth Fitness, South Carolina Test yang digunakan di Amerika, NAPFA (The National Physical Fitness Award/Assessment) di Singapura, Manitoba Physical Performance di Canada, Australian Student Fitness Test di Australia, dan ACSPFT yang dibakukan untuk negara-negara Asia.
Di Indonesia telah dikenal dan digunakan Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI), telah memiliki karakteristik dan prosedur baku yang digunakan. Berdasarkan hasil penelusuran beberapa artikel jurnal di Indonesia ditemukan bahwa tes kebugaran siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA hanya menggunakan TKJI. Dalam pelaksanaannya, beberapa guru mengeluhkan kesulitan ketersediaan sarana dan prasarana untuk melakukan tes kebugaran TKJI, prosedur pelaksanaan tes rumit, perbandingan siswa dengan guru tidak seimbang sehingga tes tidak bisa diselesaikan dalam satu kali pertemuan. Artinya, TKJI merupakan satu-satunya tes kebugaran jasmani yang digunakan oleh guru PJOK di Indonesia, namun belum pernah dilakukan validasi ulang setelah TKJI digunakan selama lebih kurang 38 tahun.
Hingga saat ini belum ada pengembangan model instrumen tes kebugaran siswa Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dibuat suatu pedoman pengembangan Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) yang valid dan reliabel, mudah diaplikasikan, dan membantu untuk menghitung hasil tes melalui digitalisasi. TKSI adalah tes kebugaran siswa yang bersifat adopsi, modifikasi, dan inovasi. TKSI ini diharapkan akan menjadi alternatif pilihan tes kebugaran jasmani siswa di era revolusi industri 4.0.
Penyusunan instrument TKSI mengikuti prosedur standar dalam pengembangan instrument yang dilakukan melalui: (a) analisis kebutuhan, (b) pengembangan draft produk, (c) justifikasi ahli, (d) uji coba kelompok kecil, (e) uji coba lapangan (kelompok), dan (g) uji validitas, reliabilitas dan kepraktisan instrument.
Tahap analisis kebutuhan dengan mencari informasi dari guru-guru PJOK SD, SMP dan SMA/SMK yang menyampaikan bahwa selama ber tahun-tahun hanya kenal TKJI, dan tidak ditemukan tes kebugaran lain yang diperlukan siswa Indonesia. Guru-guru PJOK memerlukan instrument tes kebugara jasmani yang valid, prakatis dan efektif untuk digunakan sebagai alternatif lain yang dapat digunakan secara praktis oleh guru-guru PJOK Indonesia. Beberapa hal tersebut yang menjadi pertimbangan lahirnya pengembangan TKSI, yang saat sekarang betul-betul menjadi kebutuhan bagi siswa dan guru PJOK Indonesia. Kehadiran panduan TKSI yang dapat diakses secara online melalui website TKSI https://tksi.kemdikbud.go.id/tksi
Tahap pengembangan produk dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) TKSI Fase A, untuk anak SD kelas 1-2, dengan Draf awal 20 butir instrument, uji coba kelompok kecil 16 instrument, dan uji coba lapangan (kelompok besar) 16 instrumen, (2) TKSI Fase B, untuk anak SD kelas 3-4, dengan Draf awal 20 butir instrument, uji coba kelompok kecil 20 instrument, dan uji coba lapangan (kelompok besar) semua valid, (3) TKSI Fase C, untuk anak SD kelas 5-6, dengan Draf awal 26 butir instrument, uji coba kelompok kecil 20 instrument, dan uji coba lapangan (kelompok besar) valid 16 butir instrument. (4) TKSI Fase D, untuk anak SMP, Draf awal 20 butir instrument, uji coba kelompok kecil 20 instrument, dan uji coba lapangan (kelompok besar) valid 16 butir instrument. Dan (5) TKSI Fase EF, untuk anak SMA/SMK, dengan Draf awal 20 butir instrument, uji coba kelompok kecil 20 instrument, dan uji coba lapangan (kelompok besar) valid 17 butir instrument.
Instrumen TKSI yang sudah divalidasi diujicobakan pada kelompok kecil dengan melibatkan para siswa SD, SMP, SMA/SMK dari 6 (enam) propinsi dengan jumlah 3600 siswa dari Medan Sumatra Utara, Bantul Yogyakarta, Pontianak Kalimantan Barat, Mataram Nusa Tenggara Barat, Makasar Sulawesi Selatan dan Ambon, Maluku. (e) uji coba lapangan (kelompok besar) dilakukan di 9 (sembilan) propinsi dengan jumlah 3600 siswa dari: Medan Sumatra Utara, Bantul Yogyakarta, Pontianak Kalimantan Barat, Mataram Nusa Tenggara Barat, Makasar Sulawesi Selatan, Ambon Maluku, Kota Bogor dan Depok Provinsi Jawa Barat, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan Provinsi Banten, dan Kota Denpasar dan Kab. Badung Provinsi Bali.
Uji validitas, reliabilitas dan kepraktisan instrument dilakukan dengan menganalisis data hasil uji coba lapangan (kelompok besar) diperoleh hasil sebagai berikut: Setiap fase memiliki butir 5-6 TKSI. Secara keseluruhan produk pengembangan instrument yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) TKSI Fase A, sejumlah 16 instrument, (2) TKSI Fase B, dengan 20 instrument, (3) TKSI Fase C, dengan 16 butir instrument. (4) TKSI Fase D, dengan 16 butir instrument, dan (5) TKSI Fase E, dengan 17 butir instrument.
Tujuan
Tujuan yang diharapkan dari TKSI ini adalah supaya para guru PJOK SD/MI, SMP/M.Ts, SMA/MA/SMK/MAK, Widyaiswara PJOK, Dosen, Praktisi, dan Pelatih cabang olahraga mampu menggunakan instrumen TKSI dalam mengukur tes kebugaran peserta didik.
Manfaat
Manfaat dari TKSI ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi atau rujukan bagi para guru PJOK SD/MI, SMP/M.Ts, SMA/MA/SMK/MAK, Widyaiswara PJOK, Dosen, Praktisi, dan Pelatih cabang olahraga dalam menggunakan instrumen TKSI dalam mengukur tes kebugaran peserta didik.